/*eslint lodash/import-scope: [2, "method"]*/
import { __ } from '@wordpress/i18n';
import uniqueId from 'lodash/uniqueId';
export const CREATE_NOTICE = 'CREATE_NOTICE';
export const REMOVE_NOTICE = 'REMOVE_NOTICE';
/**
* Create global notice
*
* @param {*} status - success, error, info or warning.
* @param {*} text - the text to show.
* @param {*} options - Options.
* @return {object} - action object.
*/
export function createNotice( status, text, options = {} ) {
const notice = {
id: options.id || uniqueId(),
duration: options.duration ?? 2000,
showDismiss: typeof options.showDismiss === 'boolean' ? options.showDismiss : true,
isPersistent: options.isPersistent || false,
displayOnNextPage: options.displayOnNextPage || false,
status: status,
text: text,
};
return {
type: CREATE_NOTICE,
notice: notice,
};
}
/**
* Remove notice by ID
*
* @param {*} noticeId - noticeID.
* @return {object} - action object.
*/
export function removeNotice( noticeId ) {
return { type: REMOVE_NOTICE, notice: { id: noticeId } };
}
export const successNotice = createNotice.bind( null, 'is-success' );
export const errorNotice = createNotice.bind( null, 'is-error' );
export const infoNotice = createNotice.bind( null, 'is-info' );
export const warningNotice = createNotice.bind( null, 'is-warning' );
export const updatingNotice = ( text = __( 'Updating settings…', 'jetpack-wordads' ) ) =>
createNotice( 'is-info', text, { duration: 30000, id: 'search-updating-settings' } );
export const removeUpdatingNotice = () => removeNotice( 'search-updating-settings' );
export default {
createNotice,
removeNotice,
successNotice,
errorNotice,
warningNotice,
updatingNotice,
removeUpdatingNotice,
};
Kegiatan ini menghadirikan dua pemateri yakni Syaikh Prof. Dr. Murawweh Nashar (Anggota Komisi Baitul Maqdis di Persatuan Ulama Muslim Internasional dan Anggota Pendiri Komisi Ulama Palestina), serta Ustadz Ustadz Ilham Jaya, Lc., M.HI selaku (Wakil Ketua KITA Palestina).
“Kami berterima kasih kepada pihak penyelenggara atas kegiatan kita saat ini baik oleh KITA Palestina, Wahdah Islamiyah dan pengurus Masjid serta jamaah sekalian,” kata Syaikh Murawweh yang diterjemahkan oleh Ustaz Ir. Whisnu Budi Prihatin.
Ustadz Ilham Jaya dalam penyampaiaanya menjelaskan bahwa kegiatan ini diadakan untuk mengetahui tentang keutamaan dan kewajiban kita kepada Al-Aqsha.
“Kegiatan kita ini untuk mengetahui keutamaan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa, kemudian kewajiban kaum muslimin dalam membela dan menjaga kesuciannya, apalagi di saat-saat ini ketika saudara-saudara kita di sana sedang menghadapi ujian sehingga sangat penting bagi kita umat Islam untuk tidak menunda diri mengulurkan tangan membantu mereka yang telah mewakili kita umat Islam dalam menjaga kehormatan dan kesucian Al Masjidil Aqsa kedepan,” ujarnya.
Wakil Ketua KITA Palestina tersebut juga menjelaskan bahwa Syaikh Murawweh melakukan safari dakwah ke Indonesia selain menjalin silaturrahim juga untuk menjelaskan tentang kondisi kemanusiaan yang sebenarnya sedang terjadi di Palestina, melihat banyaknya informasi yang tidak lengkap konteks penjelasannya.
Dalam materinya, Syaikh Murawweh mengungkapkan tiga hal, pertama tentang keutamaan masjidil Aqsa, kedua menjelaskan tentang bagaimana kondisi saat ini disana, serta ketiga apa kontribusi dan kewajiban kita dalam membantu rakyat Palestina.
“Masjidil Aqsa adalah tempatnya Nabi-Nabi hidup di dalamnya sebagaimana Nabi Isa, Nabi Ibrahim dan juga sebagai tempat diangkatnya Nabi Muhammad menhadap kepada Allah yang kita kenal dalam peristiwa isra mi’raj. Masjidil Aqsa juga adalah kiblat pertama kaum muslimin, serta masjid yang diwasiatkan Nabi Muhammad kepada seluruh kaum muslimin, maka banyak para ulama yang menghabiskan umurnya di masjidil Aqsa,” ungkapnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa para sahabat Nabi saking seringnya melihat atau mendengarkan Rasulullah menyampaikan tentang Masjidil Aqsa sampai-sampai para sahabat mengira ini jauh lebih mulia dibandingkan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Lebih lanjut, Dai yang telah berdakwah selama 40 tahun tersebut dan konsisten pada pembahasan tentang Al-Aqsha dan Palestina membeberkan alasan Zionis berupaya merengguk Al-Aqsha dari tangan kaum muslimin
“Kondisi yang terjadi saat ini di bumi Palestina, dimana Zionis menyerang dan menguasai apa-apa yang ada di sana, mereka membantai dan memerangi kaum muslimin di sana, mereka yang sangat terobsesisi membangun tempat ibadah, karena mereka mengklaim bahwasanya di bawah qubbatus sakhra adalah tempat tinggal dan ibadah mereka,” terangnya.
“Qubbatus sakhra adalah tempat dimana Rasulullah pertama kali melaksanakan perintah kewajiban salat lima waktu dan salat yang pertama dikerjakan oleh Rasulullah waktu itu adalah salat fajar. Di mana saat ini tempat yang pernah dipakai oleh Rasulullah tersebut salat, orang Yahudi ingin membangun tempat ibadah di bawahnya, pertanyaannya. Apakah kita rela dan ridho orang Yahudi itu membangun tempat ibadahnya di situ, tentu tidak,” tambahnya.
Syaikh Murawweh juga menceritakan pengorbanan orang-orang Palestina dengan jiwa, diri, harta dan seluruh yang mereka miliki untuk menjaga kemuliaan kaum muslimin dan Masjidil Aqsha. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita juga berkewajiban membela Palestina.
“Apa tugas dan jawab kita terhadap Masjidil Aqsa, tentu sesuai dengan apa yang kita mampu dengan berdakwah, berjihad, termasuk dalam rumah tangga bagaimana mengajarkan anak-anak kita tentang Masjidil Aqsa, termasuk jihad dengan apapun yang kita miliki baik dengan harta dan termasuk doa. Kita semua berkewajiban. Kaum muslimin di Palestina rela mengorbangkan diri, jiwa, harta dan seluruh apa yang mereka miliki untuk berjuang dan mempertahankan Masjidil Aqsa,” pungkasnya.
Pada Senin (30/10/2023), KITA Palestina telah mengumpulkan bantuan masyarakat Indonesia dan telah disalurkan tahap 1 melalui LAZNAS Wahdah Isnpirasi Zakat, Berupa bahan makanan, air minum dan hal-hal yang dibutuhkan secara umum oleh korban-korban.
]]>Tim yang berjumlah 8 orang yakni Ustaz Syaibani Mujiono, S.Sy., M.Si., Ph.D (Sekjen DPP WI), Ustaz Ambo Sakka, S.KM., MAR.S (Wasekjen 1 DPP WI), Ustaz Fakhrizal Idris, Lc., MA (Wasekjen 2 DPP WI), Ustaz Jayadi Hasan, Lc., M.Pd. (Ketua DPULN DPP WI), Ustaz Ismed Daulay, ST (Wakil Bendum DPP WI), Ustaz Jumli Alam Mapgun, S.Pd., M.Pd., M.Hum (Kepala Biro Humas DPP WI), Fadhlurrahman (Tim Media Ummat TV), dan Ustaz Yudi Wahyudi, ST (Manajer Kemitraan Laznas WIZ Area Jabodetabek).
Dalam audiensi pengurus DPP Wahdah Islamiyah tersebut diterima dengan baik oleh staf kantor Kemendagri yang dipimpin oleh Direktur Organisasi Masyarakat (Ormas) bapak Risnandar Mahiwa.
“Alhamdulillah hari ini panitia mukernas DPP Wahdah Islamiyah telah melakukan audiensi dengan kementerian dalam negeri dan diterima oleh tim dari kementerian dalam negeri yang dipimpin oleh bapak direktur ormas-ormas termasuk ormas Islam,” ujarnya.
Ustadz Syaibani dalam audensi tersebut menyampaikan program mukernas dan perkembangan-perkembangan Wahdah Islamiyah yang telah menyebar di seluruh Indonesia, dan berterima kasih kepada atas pencerahan dan penawaran sinergi program-program bersama Wahdah Islamiyah dan langsung terkait dengan biro-biro yang ada. Ia juga berharap bahwa Bapak Menteri Dalam Negeri bisa memberikan materi pencerahan kuliah umum di acara Mukernas Wahdah Islamiyah.
“Alhamdulillah sambutannya cukup luar biasa bahkan kita diberikan beberapa pencerahan serta program-program yang bisa disinergikan antara Wahdah Islamiyah dengan Kementerian Dalam Negeri yang tentunya ini sangat positif untuk pengembangan dakwah Wahdah Islamiyah kedepan. Tentu kita ucapkan jazaakumullah khair kepada Kementerian Dalam Negeri yang telah menerima dengan baik tim panitia Wahdah Islamiyah,” terangnya.
Staf kantor Kemendagri yang dipimpin oleh Direktur Organisasi Masyarakat bapak Risnandar Mahiwa mengatakan bahwa pemerintah penting melakukan kerjasama dengan ormas, untuk memberikan kontribusi bangsa dan negara.
“Insya Allah kunjungan dari Bapak-Bapak Wahdah hari ini saya akan sampaikan langsung kepada Pak Mendagri, intinya bahwa niat kita adalah baik. Pemertintah bersama setiap ormas, saya kira kita kembali kepada konstitusi kita bersama dan tidak melanggar aturan negara kita, tentu pemerintah dan ormas butuh untuk jalin kerjasama. Undang-undang ormas itu dibuat untuk memiliki peran yang besar bahkan sampai setara dengan pemerintah, kalau politik itu hanya berlaku dan berganti setiap tahun dan jangka pendek. Tapi menurutnya, ormas itu memiliki kerja yang jangka panjang dan terus dapat memberikan kotribusi bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Terkait kolaborasi yang ditawarkan Kemendagri, juga disambut baik oleh beliau setelah tim mendapatkan respon positif dari selayang pandang Wahdah Islamiyah yang ditampilkan saat pertemuan berlangsung, dan disambut dengan ajakan kerjasama oleh Kemendagri melalui bidang ormas dalam rangka menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam program pendidikan Wahdah Islamiyah.
“Kemudian yang kedua, tentunya adalah bagaimana program kolaborasi dari Wahdah Islamiyah yang telah menjalankan program-program pendidikan bisa dikuatkan lagi kedepan, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, dan juga program-program yang bisa memberikan kecerdasan ditengah-ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Ustaz Syaibani.
]]>Dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh Sulawesi Selatan Hadir seperti Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteraan Rakyat Subid Keagamaan Provinsi Sulawesi Selatan, Suherman, Direktur Intelkam Polda Sulawesi Selatan Yudi Hermawan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Syaharuddin Alrif, tokoh lintas ormas, perwakilan legislatif, dan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah, Ustaz Syaibani Mujiono, menyampaikan beberapa gagasan dan praktek kegiatan Wahdah selama beberapa tahun. Salah satu yang disorot adalah mengenai angka perceraian yang semakin meningkat selama masa pandemi.
Ia menyampaikan, karena kondisi pandemi menyebabkan banyak orang yang menganggur. Kondisi inilah kata Ustaz Syaibani yang membuat angka perceraian semakin meningkat.
Oleh karena itu, Wahdah kata dia, sudah sejak dulu memiliki satu unit perkumpulan pengusaha yang didedikasikan sebagai amal jariyah mencetak satu rumah satu pengusaha.
“Tentu saja IPWI ini kita harap bisa membuat satu macam dokumen yang bisa dijadikan sebagai pegangan sekaligus tata cara meramu kader pengusaha yang baik ke depan. Maka tak ada cara lain menekan angka perceraian, kecuali kita bangun dari pondasi agama dan ekonomi yang baik,” imbuhnya.
Sehingga ia berharap ke depan. IPWI (Ikatan Pengusaha Wahdah Islamiyah) bisa berkontribusi untuk mengatasi masalah perekonomian ini.
“Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat mempunyai peran yang penting dalam pembangunan nasional oleh karena itu perlu dibina dan dikembangkan kualitasnya agar senantiasa dapat menjadi keluarga sejahtera serta menjadi sumber daya manusia yang efektif bagi pembangunan nasional,” pungkasnya.
]]>